Wilayah pesisir utara Provinsi Banten menghadapi tekanan lingkungan yang semakin kompleks. Alih fungsi lahan, abrasi pantai, pencemaran, serta penurunan kualitas ekosistem pesisir telah mengancam keberlanjutan wilayah ini, sekaligus kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut. Di tengah kondisi tersebut, rehabilitasi mangrove menjadi langkah strategis dan mendesak.
Mangrove bukan sekadar tanaman pesisir. Ekosistem ini berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang ekstrem, sekaligus menyerap karbon dalam jumlah besar. Selain itu, mangrove merupakan habitat penting bagi berbagai biota laut, termasuk ikan dan krustasea bernilai ekonomi seperti rajungan, yang menjadi sumber penghidupan utama nelayan pesisir Banten.
Kerusakan mangrove di pesisir utara Banten berdampak langsung pada menurunnya produktivitas perikanan, meningkatnya kerentanan terhadap banjir rob, serta hilangnya mata pencaharian masyarakat. Banyak kawasan pesisir kini mengalami penyempitan daratan akibat abrasi, sementara kualitas perairan terus menurun akibat limpasan limbah industri dan domestik.
Sebagai upaya melestarikan ekosistem persisir di Utara Banten, Yayasa SALAKA bekerja sama dengan Yayasan Rekam Nusantara dan PT. Simone melakukan penanaman 1.000 bibit pohon mangrove jenis Rhizopora sp. di Desa Lontar Kec. Tirtayasa Kabupaten Serang Banten. Rehabilitasi mangrove menawarkan solusi berbasis alam yang relatif murah, berkelanjutan, dan berdampak luas. Penanaman kembali mangrove, pemulihan kawasan rusak, serta penguatan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan pesisir terbukti mampu memperbaiki fungsi ekologi sekaligus meningkatkan ketahanan sosial-ekonomi.

Lebih dari itu, rehabilitasi mangrove juga membuka peluang pengembangan ekonomi hijau, seperti ekowisata, perikanan berkelanjutan, hingga produk olahan berbasis mangrove. Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor utama dalam menjaga ekosistem pesisir.
