Pemerintah resmi membubarkan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. Melalui surat Mensesneg B- 175/M/D-1/HK.03.00/04/2025, restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove pecah ke Kemenhut, Kementerian LH, dan KKP.
Pemerintah mengakhiri masa tugas BRGM lewat surat Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi pertengahan April lalu. Satu dari lima poin isi surat itu menginstruksikan pelaksanaan restorasi gambut dan rehabilitasi mangrove beralih ke Kemenhut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Berbagai pihak menyampaikan kekhawatiran terhadap keberlanjutan restorasi mangrove di masa mendatang.
Suara Amron terdengar cemas merespons kabar pembubaran Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Kepala Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, ini, berpendapat, kehadiran BRGM memberikan dampak positif bagi mereka selama lima tahun terakhir.
Dari ujung telepon, dia menyampaikan supaya program pemulihan mangrove yang pembentukan lembaganya berdasarkan Peraturan Presiden 120/2020 ini tidak berhenti. Selama ini, BRGM menjalankan pekerjaan di lapangan lewat kelompok-kelompok yang mereka bentuk.
Amron bilang, ratusan warga yang terlibat kelompok pemulihan mangrove di desa dapat mengatasi kesulitan ekonomi mereka. “Apalagi musim sekarang, di laut agak susah. Kalau ada kegiatan penanaman mangrove otomatis yang nganggur di rumah bisa kerja.”
Mereka yang ikut dalam menjalankan program BRGM pun mengadu ke dia sejak awal tahun. Berharap penanaman mangrove tidak berhenti. Bahkan, mereka tetap berhubungan dengan lembaga ad hoc ini untuk menangani untuk menangani kerusakan dan permasalahan di pesisir desa.
Kehendak spontan masyarakat itu keluar kala mereka tahu informasi kegiatan serupa akan beralih ke Kementerian Kehutanan. Bukan tidak percaya, tetapi mereka kadung nyaman dengan BRGM yang mendampingi dari nol, hingga urusan administrasi laporan pertanggungjawaban.
Tahun lalu, misal, BRGM menyelesaikan penanaman mangrove 120 hektar dalam waktu lebih kurang 6 bulan. Jumlah itu belum termasuk pohon-pohon yang mereka tanam sejak 2022.
“Alhamdulillah, menurut kelompok pertumbuhan mangrove sangat bagus. Banyak efeknya. Kepiting mulai banyak. Sampai orang Tanjung Pasir, pusat desa, cari kepiting di sana,” kata Amron.
Desa Tanjung Pasir terdiri dari tiga dusun, Tanjung Pasir, Sungai Rumah, dan Sungai Bandung. Dusun terakhir, paling terdampak perubahan iklim. Lebih 21.000 hektar, sekitar 80%, kebun kelapa tenggelam dan mati akibat masuknya air laut.
Hutan mangrove yang terus menipis jadi pemicunya hingga tanggul pelindung daratan berulang jebol. Tidak hanya menelan kebun kelapa, abrasi dan intrusi juga memaksa penduduk Sungai Bandung migrasi, hingga hanya tersisa 60-an keluarga.
Tentunya mangrove memiliki fungsi strategis, baik pelindung pantai maupun nilai ekonomi. Karena itu, ketiadaan BRGM harus dapat dilanjutkan oleh Kementerian lainnya sehingga capaian rehabilitasi yang sudah diperoleh dapat dipertahankan bahkan ditambah. Butuh partisipasi dari semua pihak sehingga mangrove sebagai pelindung pantai benar-benar dapat bermanfaat menjaga kelestarian wilayah pesisir dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Sumber: https://mongabay.co.id/2025/05/09/brgm-bubar-restorasi-gambut-dan-mangrove-makin-gelap/